Silahkan guru-i aku dengan nada
ataupun ceramahi berdasar cerita
karena berbicara adalah nafas
tanpa batas,
usia,
kedudukan,
kepentingan,
Saatnya sadar aku bukan siapa-siapa
walau demikian biarkan suara
ku menjadi detak yang menghela
karena berbicara adalah nafas
tanpa batas,
cinta,
rindu,
kecewa,
sendu,
Sudahi kisah ini yang hanya
mengangkasa harapan fana
tak perlu memberi saat kamu tak mampu menerima
karena dalam diamku untuk berbicara
adalah nafas tanpa batas,
saudara,
keluarga,
sahabat,
teman,
musuh,
dan
..(aku)
Senin, 07 Juli 2014
Sabtu, 05 Juli 2014
Diam untuk berbicara
Sudah saatnya kau tau aku memilih diam bukan karena aku ingin mendengarkanmu.
Aku sudah tahu arah pembicaraanmu.
Aku juga mengerti apa yang ingin kamu sampaikan.
Karena aku memahamimu dengan cara aku tidak memahamimu.
Caraku berbicara adalah diam saat kamu butuh bercerita,
diam dengan memperhatikan gerak kamu,
gerak mata,
gerak tangan,
gerak bibir,
gerak raut wajah,
semua gerak adalah dansa diam yang tak bersuara.
diamku juga belajar mengenali suara kamu.
intonasi emosi,
intonasi ejaan,
intonasi kebiasaan,
intonasi karakter,
semua intonasi merupakan oktaf tuli tertinggi
Jika pemilu adalah kamu
aku memilih melepaskanmu
saat cintaku membungah
tatkala rinduku membuncah
sewaktu geloraku bergairah
bisa jadi tak terlihat oleh mata telanjangmu
karena saat kamu tidur aku bangun mendoakanmu
tatkala kamu sibuk aku santai memikirkanmu
sewaktu kamu memberi punggung, aku tetap berdada tegap
melepaskan untuk mengikat
perasaan untuk dipikirkan!
Aku sudah tahu arah pembicaraanmu.
Aku juga mengerti apa yang ingin kamu sampaikan.
Karena aku memahamimu dengan cara aku tidak memahamimu.
Caraku berbicara adalah diam saat kamu butuh bercerita,
diam dengan memperhatikan gerak kamu,
gerak mata,
gerak tangan,
gerak bibir,
gerak raut wajah,
semua gerak adalah dansa diam yang tak bersuara.
diamku juga belajar mengenali suara kamu.
intonasi emosi,
intonasi ejaan,
intonasi kebiasaan,
intonasi karakter,
semua intonasi merupakan oktaf tuli tertinggi
Jika pemilu adalah kamu
aku memilih melepaskanmu
saat cintaku membungah
tatkala rinduku membuncah
sewaktu geloraku bergairah
bisa jadi tak terlihat oleh mata telanjangmu
karena saat kamu tidur aku bangun mendoakanmu
tatkala kamu sibuk aku santai memikirkanmu
sewaktu kamu memberi punggung, aku tetap berdada tegap
melepaskan untuk mengikat
perasaan untuk dipikirkan!
Label:
berbicara,
Diam,
diam untuk berbicara,
dipikirkan,
emosi,
gerak,
intonasi,
kamu,
karakter,
masa depan,
masa lalu,
melepaskan untuk mengikat,
memahami,
mendengarkan,
pemilu,
perasaan,
pikiran
Jumat, 06 Juni 2014
Ingin bercerita dengan raja dan ratu di dekat pohon jambu air yang sudah ditebang.
Terbesit kisah yang diungkit untuk dikenang masa depan.
Ada sebuah keluarga manusia dengan gerombolan burung pipit yang sering bertamu, di pohon jambu air depan rumah.
Mereka tak ingin dijamu.
Karena bisa mandiri mencoba membangun keluarga pohon jambu air yang berbahagia.
Keluarga manusia tidak pernah mendekati pohon jambu air, juga tidak pernah mencoba merawat.
Dan alam-lah yang mengasihi pohon jambu air tersebut.
Dengan rezeki hujan, terik matahari yang garang, dan kenyamanan malam.
Pohon jambu air menjadi tempat yang sempurna untuk keluarga burung pipit.
Mereka berbahagia setiap pagi.
Saling berbicara dengan saling menatap.
@PipitElang "Ini pagi yang indah"
@PipitGaruda"Pagi yang datang setelah malam"
@PipitElang"Sungguh hangat melihat mu indah hari ini"
@PipithRajhawali"Kamu juga indah dengan semangat yang membara"
@PipitElang"Pelihara mimpi menjadi elang adalah kuncinya"
@Pi2tSaja"Bukankah kita burung pipit?"
@PipitElang"Tampak luarnya saja, kekuatan dalamnya melebihi elang"
@PipitGaruda"Aku pilih menjadi garuda yang gagah saja"
@PipithRajhawali"Garuda hanya burung utopia yang tak bisa terbang"
@PipitElang"Tidak bisa terbang karena kakinya sudah biasa di ikat, dan aku percaya Garuda itu ada"
@Pi2tSaja"Dimana kamu pernah melihatnya?"
@PipitGaruda"Saat aku menatap danau bening yang indah, aku melihatnya terbang melintasi"
Mereka berbicara memelihara mimpi dengan bercerita dan menyemangati.
--------------------------------------------------------------------------------
Merdu serta anggun mengiringi kepergian gerombolan burung pipit besar.
Ada tiga sarang di pohon jambu air.
Dua sarangnya jadi tangisan cerewet gerombolan burung pipit kecil.
Satu sarang lagi masih berupa sekelompok telur.
Tatkala matahari nya meninggi, lebih cerah, lebih gagah, dan tersenyum mewah.
Dengan kehangatan yang menjerat, awan pun tak berani melakukan pemberontakan.
Saat itulah dua pasang burung pipit besar mendekat. Memberi makan anak-anak yang kelaparan.
Berbicara renyah kepada pasangan yang belum menetaskan telurnya.
@Pi2tSaja"Kesempatan yang indah memiliki butiran telur memukau"
@PipitElang"Juga kesempatan yang baik mendapatkan tanggung jawab tersebut"
@PipitAlam"Aku percaya pada alam yang indah membantu menyelesaikan tanggung jawab"
@PipitGaruda"Sudahkah kamu berbicara dengan alam yang indah"
@PipitAlamiah"Ia punya banyak pengikut yang tidak bisa disepelekan, aku hanyalah salah satunya"
@PipitElang"Milik semesta yang tidak bisa dicintai sepenuhnya"
@PipitGaruda"Semoga telurmu juga menjadi burung pipit yang indah"
@PipitAlam"Aku lebih mengkhawatirkan nasib pohon jambu air yang mewah ini"
@PipithRajhawali"Aku juga, ini masa depan yang hanya bisa diserahkan ke alam"
@PipitElang"Dan keluarga manusia yang bertempat tinggal"
@Pi2tSaja"Aku iri dengan kebahagiaan keluarga manusia yang sunyi"
@PipitGaruda"Manusia dengan berbulu lebat selalu menjadi pemimpin"
@PipitAlamiah"Ia tak pernah berkotek kecuali membuka paruh dengan lebar"
@PipithRajhawali"10 x ukuran garuda, dan tidak bersayap"
@PipitAlam"Juga ada manusia dengan bulu yang sangat panjang dikepalanya"
@PipitElang"Terkadang ditutupinya, juga lebih banyak terurai"
@Pi2tSaja"Ia indah dan berkotek nyaring"
@PipithRajhawali"Sudahlah manusia bukan urusan kita"
@PipitAlamiah"Tapi ia juga bagian semesta yang mengarahkan masa depan"
@PipitAlam"Cukup percaya pada takdirmu"
@PipitElang"Kepastian yang ada di bumi adalah ketidakpastian"
@PipitGaruda"Silahkan berfilsafat, bumi tidak akan mengasihi dengan keraguan"
@PipithRajhawali"Kamu juga percaya hal itu"
@PipitElang"Untuk saat yang harus dipercaya"
-----------------------------------------------------------------------------------------
Pohon jambu air sudah ditebang. Masa lalu adalah kenangan dan sejarah.
@ManusiaTanpaGelar
Ada sebuah keluarga manusia dengan gerombolan burung pipit yang sering bertamu, di pohon jambu air depan rumah.
Mereka tak ingin dijamu.
Karena bisa mandiri mencoba membangun keluarga pohon jambu air yang berbahagia.
Keluarga manusia tidak pernah mendekati pohon jambu air, juga tidak pernah mencoba merawat.
Dan alam-lah yang mengasihi pohon jambu air tersebut.
Dengan rezeki hujan, terik matahari yang garang, dan kenyamanan malam.
Pohon jambu air menjadi tempat yang sempurna untuk keluarga burung pipit.
Mereka berbahagia setiap pagi.
Saling berbicara dengan saling menatap.
@PipitElang "Ini pagi yang indah"
@PipitGaruda"Pagi yang datang setelah malam"
@PipitElang"Sungguh hangat melihat mu indah hari ini"
@PipithRajhawali"Kamu juga indah dengan semangat yang membara"
@PipitElang"Pelihara mimpi menjadi elang adalah kuncinya"
@Pi2tSaja"Bukankah kita burung pipit?"
@PipitElang"Tampak luarnya saja, kekuatan dalamnya melebihi elang"
@PipitGaruda"Aku pilih menjadi garuda yang gagah saja"
@PipithRajhawali"Garuda hanya burung utopia yang tak bisa terbang"
@PipitElang"Tidak bisa terbang karena kakinya sudah biasa di ikat, dan aku percaya Garuda itu ada"
@Pi2tSaja"Dimana kamu pernah melihatnya?"
@PipitGaruda"Saat aku menatap danau bening yang indah, aku melihatnya terbang melintasi"
Mereka berbicara memelihara mimpi dengan bercerita dan menyemangati.
--------------------------------------------------------------------------------
Merdu serta anggun mengiringi kepergian gerombolan burung pipit besar.
Ada tiga sarang di pohon jambu air.
Dua sarangnya jadi tangisan cerewet gerombolan burung pipit kecil.
Satu sarang lagi masih berupa sekelompok telur.
Tatkala matahari nya meninggi, lebih cerah, lebih gagah, dan tersenyum mewah.
Dengan kehangatan yang menjerat, awan pun tak berani melakukan pemberontakan.
Saat itulah dua pasang burung pipit besar mendekat. Memberi makan anak-anak yang kelaparan.
Berbicara renyah kepada pasangan yang belum menetaskan telurnya.
@Pi2tSaja"Kesempatan yang indah memiliki butiran telur memukau"
@PipitElang"Juga kesempatan yang baik mendapatkan tanggung jawab tersebut"
@PipitAlam"Aku percaya pada alam yang indah membantu menyelesaikan tanggung jawab"
@PipitGaruda"Sudahkah kamu berbicara dengan alam yang indah"
@PipitAlamiah"Ia punya banyak pengikut yang tidak bisa disepelekan, aku hanyalah salah satunya"
@PipitElang"Milik semesta yang tidak bisa dicintai sepenuhnya"
@PipitGaruda"Semoga telurmu juga menjadi burung pipit yang indah"
@PipitAlam"Aku lebih mengkhawatirkan nasib pohon jambu air yang mewah ini"
@PipithRajhawali"Aku juga, ini masa depan yang hanya bisa diserahkan ke alam"
@PipitElang"Dan keluarga manusia yang bertempat tinggal"
@Pi2tSaja"Aku iri dengan kebahagiaan keluarga manusia yang sunyi"
@PipitGaruda"Manusia dengan berbulu lebat selalu menjadi pemimpin"
@PipitAlamiah"Ia tak pernah berkotek kecuali membuka paruh dengan lebar"
@PipithRajhawali"10 x ukuran garuda, dan tidak bersayap"
@PipitAlam"Juga ada manusia dengan bulu yang sangat panjang dikepalanya"
@PipitElang"Terkadang ditutupinya, juga lebih banyak terurai"
@Pi2tSaja"Ia indah dan berkotek nyaring"
@PipithRajhawali"Sudahlah manusia bukan urusan kita"
@PipitAlamiah"Tapi ia juga bagian semesta yang mengarahkan masa depan"
@PipitAlam"Cukup percaya pada takdirmu"
@PipitElang"Kepastian yang ada di bumi adalah ketidakpastian"
@PipitGaruda"Silahkan berfilsafat, bumi tidak akan mengasihi dengan keraguan"
@PipithRajhawali"Kamu juga percaya hal itu"
@PipitElang"Untuk saat yang harus dipercaya"
-----------------------------------------------------------------------------------------
Pohon jambu air sudah ditebang. Masa lalu adalah kenangan dan sejarah.
Mekanik Ingusan
I. BENSIN
Ada
yang bertanya padaku,” apa kesalahanku selama ini?”. Aku menjawab, “
kesalahanku adalah hidup didunia ini, dan tidak memanfaatkan kesempatanya dalam
hidup”. Aku tidak tahu kalimat yang terlontar spontan itu aku dapat mana,
atau pun aku pernah dengar dari siapa. Tapi aku jujur berkata itu pada diriku
sendiri. Aku terlalu sering melupakan pintu yang terbuka disebelah pintu
tertutup yang terus ku pandangi dan ku sesali. Bahasa yang sering kudengar, tidak
pernah “move on” dari situasi.
Sehingga tujuanku, bensin hidupku. Tidak pernah terbakar sempurna karena aku sendiri
tidak mengetahuinya secara rinci langkah pembakaran dalam yang tepat. Disebabkan aku terpaku pada masalah hidup yang
hanya ku ratapi.
Saat
ini aku masih meneruskan pendidikan di tingkat universitas. Memasuki tahun
keempat, mendekati tahun kelima. Artinya berjarak tiga tahun dari tenggat waktu
lulus yang ditetapkan atau aku dikeluarkan secara terpaksa. Aku memang masih ingin belajar tapi aku sendiri tidak menunjukkan perkembangan yang baik dalam
pelajaran.
“
IP (indeks prilakumu) kenapa turun lagi nak?”
Dosen
waliku bertanya pertanyaan yang sama seperti semester sebelumnya.
“Aku
tidak tahu pak (bukan urusanmu pak),”
Jawabku
sekenanya. Tapi tak menghentikan dia bertanya.
“Lalu
bagaimana dengan tanggung jawab dengan orangtuamu nak?”
Aku
hanya diam mendengarkan.(bukan urusanku pak itu tanggung jawab orangtua ku)
“Mulai
saat ini kamu harus lebih sering di kampus. Waktumu tidak banyak. Jangan terlalu melankolis lah. Bersikap dewasa. Tidak ada waktu untuk bermain lagi. Sudah saatnya kamu memutuskan masa depan dengan tepat. Saya sebagai seorang pendidik tugasnya mengingatkan. Bakar bensin impian dengan urutan yang benar. Kompresi-kan dengan niat membahagiakan orang tuamu. Untuk menghasilkan langkah ekspansi (usaha) yang maksimal. Saya memperhatikan kamu!”
Kembali
aku dicecar dengan ancaman dan terpaksa aku menjawab.
''Baik
pak (daripada bermasalah pak)"
"Ya sudah, saya masih ada kesibukan yang lain. Saya harap ketemu denganmu lagi membawa hasil yang lebih baik!"
"Siap pak. Saya pamit dulu, permisi pak”
Kepergianku
disambut dengan hentakan tangan kiri menyuruhku keluar, ditambah isyarat menutup
pintu dengan isyarat yang sama. Aku berpikir untuk mengunci pintu itu dari luar. DN akan sangat senang mendengar rontaan bapak itu, seperti rontaan tahanan
maling sandal yang dihukum lima tahun penjara. Lebih berat dari 4 tahun
5 bulan koruptor bangunan olahraga yang senilai sandal 50 juta orang. Tragiss.
Aku memang menjadi apatis terhadap nilai ku yang berantakan, tapi aku tetap
cinta asal bukan negeriku yang berantakan. Dan merasa
membantu negeriku menjadi lebih baik dengan menghujat koruptor uang rakyat
dibanding menghujat diri sendiri yang tidak mau belajar, hidup mahasiswa
tingkat akhir!. ‘^^
Terlepas dari harapan tinggiku
terhadap negeri ini, aku juga punya tujuan sederhana mengandung harapan
untuk diriku. Aku harus lulus, seberat apapun langkahku meraihnya. Harus!
II. KECEPATAN PENUH
Tik
Tik Tik
Itu
bukan suara hujan, melainkan suara telepon genggamku berdering. Sengaja kuganti
bunyi panggilannya. Biar aku mengingat kembali masa kecilku yang senang
memperhatikan tetesan air hujan yang menerpa atap rumahku. Bunyinya
menentramkan. Semakin lama aku memperhatikan semakin aku mengerti. Kenapa orang
takut saat hujan datang. Karena hujan tibanya keroyokan, kalau sendiri-sendiri
sepertinya tidak perlu orang takut menghadapinya.
Pertanyaan
datang, kenapa ceritaku melantur saat telepon genggamku berdering. Karena aku
lagi tertidur pulas. Arti pulas itu sama dengan keadaan aku tidak akan terjaga
walau ada gempa 4.0 SR. (jangan yang tinggilah, ntar malah kiamat dulu sebelum
aku bangun J
). Apalagi dengan suara dering telepon seperti suara hujan tersebut yang malah
membuatku semakin terlelap lebih dalam dan semakin dalam.
Aku
tidak tahu mimpi apa sewaktu hujan terasa
begitu deras. Mataku jadi begitu berat untuk menantang cahaya. Masih
terperangkap oleh euphoria kegelapan. Mengundang untuk terus bermesraan. Aku
kasmaran dalam pesona penasaran. Berhasrat menyambung mimpi yang tersekat.
Nyata dan fana. Semakin lama hujan jadi lebih deras. Aku lebih hanyut dalam
pusaran istirahat panjang.
----------------------------------------------------------------------------------------------
Sebagai
komandan, aku adalah keputusan, perintah, aturan dan keharusan. Ini adalah
jalan panjang menembus semesta. Tujuanku menaklukan angkasa. Melintasi batasan
yang terbentang. Aku tidak berhenti sebelum mencapai apa yang kuharapkan.
Bagiku kebanggaan adalah menyelesaikan tugas dengan baik. Itulah kenapa aku
menjadi komandan kapal pelintas batas angkasa. Karena aku terbaik dalam
menangani dan mengarahkan dengan tepat kemana arah kapal ini berlayar.
Setengah
perjalanan masih diliputi kawasan gelap tak bercahaya. Entah kemana bintang
berpendar. Ini adalah kemiskinan angkasa yang terselimuti. Tanpa arah yang
jelas, ku komando tetap lurus kedepan.
“Radar
kita rusak komandan’’
“Ada
kemungkinan badai kosmik menanti didepan komandan”
“Lebih
baik kita menyimpan energy dengan diam terlebih dahulu komandan”
Suara-suara
negatif kapal tak kuhirau. aku adalah komandan. Aku adalah perintah. Aku adalah
aturan. Aku adalah keputusan. Harus berapa kali kujelaskan agar kalian
mengerti.
“TETAP
LAJUKAN KAPAL LURUS KEDEPAN DENGAN KECEPATAN PENUH”
Gelegar
suara perintahku membahana menenggelamkan suara kru kapal yang entah kenapa
bisa setia dengan sikap otoriterku ini.
Kapal melaju mencapai tenaga
maksimal yang bisa ia kerahkan. Dengan kecepatan ini satu galaksi bisa
terlewati dengan empat kedipan mata. Sehingga lintasan menjadi lebih terang belum
tersadari sudah menanti didepanku. Bukan bintang yang berjejer. Melainkan badai
kosmik. Sesuai dengan prediksi kru kapal yang kuabaikan. Badai itu menerjang
bergelombang laksana tsunami yang menerpa aceh daratan. Siap meluluhlantakan
apapun yang didepannya. Inilah kematian yang didambakan untuk tak dikenang.
Keputusan buruk komandan penyebab tragedy yang seharusnya bisa dihindarkan.
III. ASSISTENSI
Kali
ini aku benar-benar terjaga. Suara dering telepon genggamnya masih bersahutan.
Tertekan jempolku menjawab panggilan.
“Lagi
dimana?, Ayo Assistensi, Udah ditunggu dari tadi, Buruan yak, Harus satu
kelompok bersama lengkap lho”
Aku
tak sadar responku seperti apa menjawab serbuan pertanyaan dan ajakan tersebut.
Sepertinya tidak sempat aku melontarkan satu katapun sebelum teleponnya
terputus dari seberang.
Kepalaku
tak gatal, tapi tetap saja reaksi tanganku menggaruk-garuknya. Mencari bekas
galian kutu rambut. Bahkan alasan pencarian itu tak kumengerti. Aku bisa saja
melihat dengan mata telanjang didepan kaca. Dengan rambut cepak pendek tajam,
jangankan kutu rambut yang takkan luput dari pengawasanku. Seekor cicakpun bisa
mati jika berniat mendarat dikepalaku.
Aksi garuk-menggaruk ini terasa mengasyikkan. Bukan hanya rambut yang ingin diperhatikan, badan, punggung, kaki dan tangan pun saling bermesraan dengan perasaan saling peduli melalui garukan yang membekas. oiya siap-siap kekampus!. otakku mulai bekerja dan berfungsi. matahari masih seperti biasa menjalankan kewajibannya menerangi malam untuk menjadi siang.
Sesuai dengan perhitungan waktu yang dibuat manusia, jam dinding menunjukkan pukul 9 lewat 17 menit waktu kosanku. bergegas kekamar mandi tanpa membawa handuk, cukup sikat dan pasta gigi. segera membasuh muka juga menggosok gigi dengan empat kali sentuhan praktis, simpel ala mahasiswa kebelet kekampus.
Tidak perlu khawatir tidak mendapatkan teman karena tidak mandi. Itu adalah bentuk solidaritas tanpa batas, karena ketidakpedulian terhadap teman adalah barang haram dikampusku. Bahkan ketika kamu sudah mengerjakan tugas, tanpa tedeng aling-aling harus segera membagi dengan sukarela ke teman-temanmu. Bahkan kepedulianmu terhadap penampilan adalah wujud murtad dari pergaulan kampusku.
Setiba di laboratorium, aku mengetuk pintu bukan karena menyimpan dendam dengan pintu. naif sekali karena pintupun bisa membalas sakitnya sekeras aku memukulnya.
"Tugasnya mana dek?"
Assisten Lab bertanya padaku sebelum sempat aku duduk dikursi yang sudah kosong menggoda untuk aku singgahi. aku ingin duduk karena temanku juga duduk begitu juga assistennya. aku tidak mau terlihat lebih tinggi dari assisten. olah sebab itu aku berusaha untuk duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan assisten.
"Tugas apa ya mas?
Pertanyaanku polos seperti kaos kaki grosir dipasar johar. sambutannya beragam, teman-teman satu kelompok menatapku seperti artis Indonesia yang lagi siap-siap manggung. Dengan intensitas yang dibumbui sinis pastinya. Bahkan temanku yang duduk persis disebelahku, Golith, berbaik hati memukul kepalaku bagian belakang dengan tangan kirinya. tidak lembut dan cukup membuatku seperti mengangguk.
"Tugas kelompok kita jing, kan sudah aku kirim ke e-mailmu untuk tak suruh print!"
Golith tidak berbisik padaku, bahkan assistenpun mendengarnya.
"Modemku paketnya habis lith, aku belum download datanya"
Pembelaanku dengan berbohong tetap tak bisa diterima golith.
"aku akan mencoret namamu dalam tim"
kali ini dia berbisik padaku.
Solidaritas yang kuagungkan mendadak menghilang tanpa jejak. hanya fatamorgana yang mengawan dalam harapan fana tanpa cela. karena memang manusia adalah makhluk yang membatasi dirinya. termasuk aku.
__________________________________________________________________________
Bersambung....
Jumat, 23 Mei 2014
Jum'at rezeki
Jum'at terkenal dengan ke-keramat-tannya. Juga merupakan hari yang penuh anjuran untuk melaksanakan kebaikan. Jum'at menyapa manusia yang bekerja untuk beristirahat sejenak. Tatkala matahari begitu terik, tepat menghujam batok kepala. Hingga bayang sendiri terbenam dalam kegarangan matahari. Itulah waktu yang tepat untuk membasuh muka, mengusap kedua tangan hingga batas masing-masing siku, menyapu dan membasahi permukaan dahi hingga kepala, membersihkan kedua daun telinga, serta mendinginkan juga memijit kedua kaki dengan air suci dari batas mata kaki hingga ujung jari.
Hati ini berdesir perlahan. Menikmati kesejukan dengan sujud yang dalam. Banyak do'a yang terhampar membentang. Menyadari harapan begitu tipis jaraknya dengan kenyataan. Langkah terakhir tersekat oleh krisis kemandirian. Aku disadarkan jum'at bahwa hidupku tak sendirian. Ia mengajarkan ku arti harta yang terpendam dalam tubuh. Harta penting yang sangat bernilai. Perhatian dan Kasih sayang. Apa yang ku miliki saat ini adalah harapan. Usia, pendidikan, dan hubungan adalah nilai dari harapan.
Biasanya setelah jum'atan, ada aja kejadian yang mengingatkan ku untuk bersyukur. Ada teman yang udah lama tidak berjumpa, kangen untuk saling bercerita. Sama-sama jadi mahasiswa yang belum dibolehkan pakai toga saat ramai-ramai berkumpul di gedung yang pertama kita datangi untuk mendaftar, agar sebagai tanda mengakhiri status yang sudah lama melekat. Moment dirindukan dan untuk dikenang nantinya. Lalu makan bareng gratis. Pulangnya bayar masing-masing.
Jum'at tetap tersenyum padaku, saat ia berpisah ia tak ingin melihatku bersedih lagi dan kehilangan semangat. "Hari Sabtu juga indah, ia adalah waktu untuk kamu beristirahat sejenak dengan beban kerja yang lebih sedikit".
"Kamu spesial dihatiku dan aku akan selalu menyanyikan lagu _begitu indah_ dari Padi untukmu, Jum'at"
"Terimakasih, Titip salam dengan sabtu. Berselingkuhlah dan bercintalah dengan gairah dosa untuk bertemu denganku. Agar kamu merasa bersalah"
"Jum'at rezeki kayaknya lebih cocok untukku"
Akupun membalas senyumannya yang bakal kurindukan untuk beremu dengan Jum'at yang lain.
Hati ini berdesir perlahan. Menikmati kesejukan dengan sujud yang dalam. Banyak do'a yang terhampar membentang. Menyadari harapan begitu tipis jaraknya dengan kenyataan. Langkah terakhir tersekat oleh krisis kemandirian. Aku disadarkan jum'at bahwa hidupku tak sendirian. Ia mengajarkan ku arti harta yang terpendam dalam tubuh. Harta penting yang sangat bernilai. Perhatian dan Kasih sayang. Apa yang ku miliki saat ini adalah harapan. Usia, pendidikan, dan hubungan adalah nilai dari harapan.
Biasanya setelah jum'atan, ada aja kejadian yang mengingatkan ku untuk bersyukur. Ada teman yang udah lama tidak berjumpa, kangen untuk saling bercerita. Sama-sama jadi mahasiswa yang belum dibolehkan pakai toga saat ramai-ramai berkumpul di gedung yang pertama kita datangi untuk mendaftar, agar sebagai tanda mengakhiri status yang sudah lama melekat. Moment dirindukan dan untuk dikenang nantinya. Lalu makan bareng gratis. Pulangnya bayar masing-masing.
Jum'at tetap tersenyum padaku, saat ia berpisah ia tak ingin melihatku bersedih lagi dan kehilangan semangat. "Hari Sabtu juga indah, ia adalah waktu untuk kamu beristirahat sejenak dengan beban kerja yang lebih sedikit".
"Kamu spesial dihatiku dan aku akan selalu menyanyikan lagu _begitu indah_ dari Padi untukmu, Jum'at"
"Terimakasih, Titip salam dengan sabtu. Berselingkuhlah dan bercintalah dengan gairah dosa untuk bertemu denganku. Agar kamu merasa bersalah"
"Jum'at rezeki kayaknya lebih cocok untukku"
Akupun membalas senyumannya yang bakal kurindukan untuk beremu dengan Jum'at yang lain.
Minggu, 06 April 2014
(kembali ke asalnya) Mesin
Apa yang membuat ilmu pengetahuan itu tampak hebat?
Sehingga banyak penemuan-penemuan baru yang terus berhasil membuat kita menjadi lebih terbantu.
Terlebih dahulu kita membahas fungsi dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Sebagai alat bantu untuk kita (manusia) mengenali, pertama diri sendiri, kedua lingkungan, dan ketiga kehidupan. Akan banyak aspek yang mencakup tiga hal tersebut. Hal yang perlu saya tekankan adalah alat atau ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terlihat hebat karena saling keterikatannya masing-masing sub-ilmu itu sendiri.
Contohnya Ilmu Mesin yang terikat dengan ilmu fisika, kelistrikan, ekonomi, hukum, dan bahkan sastra. Karena ilmu itu sendiri adalah seni. Seni pun adalah ilmu. Saat seorang dosen mengajarkan ilmu dengan gaya bercerita dengan penggambaran alat kelamin pria, BUKAN berarti dosen tersebut mengajari kecabulan!. Hal itu adalah cara dosen tersebut untuk anak didik bisa lebih mengerti dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu.
Sang Maha Ilmu pun memang telah memberi tamsil terbaik dibidang keilmuan dari tubuh manusia. Bukan hanya ilmu Kedokteran, Biologi, dan Kesehatan saja yang boleh mempelajari anatomi tubuh. Mesin Pun juga WAJIB hukumnya mengenali dan mempelajarinya. Kenapa pesawat memiliki badan dan moncong nya berbentuk dengan alat kelamin pria atau lebih disingkat dengan "titit"?. Hal dipelajari dan dibahas juga oleh calon atau sudah jadi insinyur teknik mesin.
Penyebabnya karena bentuk cantilever pada moncong pesawat karena mampu menahan gaya puntir dan meneruskan gaya geser dengan baik pada keseluruhan batangnya. Badan yang berbentuk tabung untuk memudahkan daya angkat pesawat karena gaya angkatnya berpusat pada satu titik.
Lalu ada juga seorang dosen yang mengatakan bahwa murid ajarnya adalah sampah. bukan berarti dosen tersebut tukang sampah. Maksudnya dosen tersebut memacu daya belajar mahasiswanya untuk bisa membuktikan kapasitas dan kapabilitasnya dalam menggali ilmu pengetahuan. Tidak selamanya dosen yang menjadi dewa pemberi nilai menjadi sang kebenaran yang tak terbantahkan. Dan tidak berarti juga menjadi keledai yang hanya memutari lingkaran yang tak berujung.
Etos belajarlah, Keingintahuan lah, dan Kerja keras tanpa menyerah lah menjadi pembedanya. Keterikatan dosen dan mahasiswa, guru dan siswa, pendidik dan anak didik, pemerintah dan masyarakat, juga orang tua dan anak adalah kunci ilmu pengetahuan menjadi hebat. Saya tekankan disini, kata sambungnya adalah 'dan'. jadi hubungan yang terjadi adalah saling berkesinambungan. Bukan dengan 'ke', yang bersifat satu arah.
!!!!!!!!
Ayoh Demo!! Demo masak!
Aku lapar
Aku lapaar
Akuu Butuh Makan
Aku tidak butuh janji
Cukup Makanan yang kau hantarkan untukku
Apa yang akan kalian hidangkan?
Cukup banyak bumbu yang kau taburkan!
Dari bahan dapur yang telah diserakkan!
Berapa harga dari masakan kalian?
Tak cukupkah air mata dan harapan yang telah tertumpah
Tertumpah jatuh jauh tak kembali
Hilang rasa lapar ini, Hanya mual dan muak melihat semuanya
Awalnya aku lapar akan daya pikat harumnya bumbu merekah, renyah
juga daya kreasi cipta citra yang tak kenal lelah
Hilang semua idealis kelaparanku
aku mual dan muak
Aku lebih baik berpuasa untuk lima tahun ke depan
demo masak ini pesta yang hanya dibumbui harga kelaparan yang melangit
Langganan:
Postingan (Atom)




