Senin, 03 November 2014

oouut

Saat dia berjalan
Hanya ada bayangan
Karena siang
Matahari garang
Menyelimuti permukaan
Menyingsing kegelapan
Bersembunyi senang
Karena pohon gersang

Sudah cukup umpat
Mencerca lebat
Salah yang dibenar
Pura tak sadar
Rupa merat
Laku melarat
Kong itu awalan
King-nya akhiran

Bila cinta adalah benci
Puji menjadi caci
Gagah berupa banci
Berani jelma janji
Tak ditepati
Mari merubah diri
Sebelum membenci

Minggu, 31 Agustus 2014

Hidup dan bicara

Jikalau berbicara mengenai hidup, semua orang serasa menjadi seorang Socrates, Plato atau Aristoteles. Hidup adalah (bla bla bla).. hidup seperti (sla sla sla).. dan hidup mengenai (ni ni tu).. Tiba-tiba semuanya menjadi ahli dan mahir untuk berbicara. 
Manusia memang terlahir untuk berbicara. Waktu yang mencatatnya. Dengan tarikan-hembusan nafas yang menjadi pengingatnya. Dan gerak yang menyampaikan isyarat.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Selaput Pemikiran

Ini janji yang tak terbagi. Saat hujan menjadi lukisan. Awan adalah kanvas rupawan menawan.
Tidak butuh bintang. Apalagi setinggi langit. Bumi adalah tempatku berpijak.
Tanah yang basah begitu harum menggugah. Ini saatnya menanam.
Tatkala lukisan begitu indah. Menjadi harapan yang mewah.
Pepohonan adalah kenyataan. Bukanlah bintang.
Dedaunan ini tak berharga. Dinilai uang.
Hanya alat tukar. Menjadi Tuhan.
Hijaunya membutakan. Harumnya melenakan. Banyak memiskinan. Dikitnya membunuhkan.
Kecuali Bumi yang luas dijadikan tempat istirahat. Bersama cacing dan kotoran.
Ini pemikiran. Dan perasaan yang perawan.

Saatnya Waktu yang Mengancam

Dulu
Waktu sedang nyenyak bersantai.
Minum kopi di malam hari, lalu tidur disaat Matahari terjaga.
Kemaren
Waktu masih luput bergerak.
Diam tanpa baterai, tak beranjak tanpa jejak di hitungan masa.
Hari ini
Waktu terancam.
Ia galak dengan penyesalan yang terus datang menyapa.
Esok.
Waktu mengancam.
Dendam.
Terlecehkan.
Tak mampu bangun dan mengimpi bahagia.
Masa Depan.
Adalah
Sesal yang belum berjumpa.
Kegagalan untuk gagal.

Senin, 07 Juli 2014

Seperti nafas tanpa batas

Silahkan guru-i aku dengan nada
ataupun ceramahi berdasar cerita
karena berbicara adalah nafas
tanpa batas,
usia,
kedudukan,
kepentingan,

Saatnya sadar aku bukan siapa-siapa
walau demikian biarkan suara
ku menjadi detak yang menghela
karena berbicara adalah nafas
tanpa batas,
cinta,
rindu,
kecewa,
sendu,

Sudahi kisah ini yang hanya
mengangkasa harapan fana
tak perlu memberi saat kamu tak mampu menerima
karena dalam diamku untuk berbicara
adalah nafas tanpa batas,
saudara,
keluarga,
sahabat,
teman,
musuh,
dan
..(aku)

Sabtu, 05 Juli 2014

Diam untuk berbicara

Sudah saatnya kau tau aku memilih diam bukan karena aku ingin mendengarkanmu.
Aku sudah tahu arah pembicaraanmu.
Aku juga mengerti apa yang ingin kamu sampaikan.
Karena aku memahamimu dengan cara aku tidak memahamimu.
Caraku berbicara adalah diam saat kamu butuh bercerita,

diam dengan memperhatikan gerak kamu,
gerak mata,
gerak tangan,
gerak bibir,
gerak raut wajah,
semua gerak adalah dansa diam yang tak bersuara.

diamku juga belajar mengenali suara kamu.
intonasi emosi,
intonasi ejaan,
intonasi kebiasaan,
intonasi karakter,
semua intonasi merupakan oktaf tuli tertinggi

Jika pemilu adalah kamu
aku memilih melepaskanmu
saat cintaku membungah
tatkala rinduku membuncah
sewaktu geloraku bergairah

bisa jadi tak terlihat oleh mata telanjangmu
karena saat kamu tidur aku bangun mendoakanmu
tatkala kamu sibuk aku santai memikirkanmu
sewaktu kamu memberi punggung, aku tetap berdada tegap

melepaskan untuk mengikat
perasaan untuk dipikirkan!

Jumat, 06 Juni 2014

Ingin bercerita dengan raja dan ratu di dekat pohon jambu air yang sudah ditebang.

Terbesit kisah yang diungkit untuk dikenang masa depan.
Ada sebuah keluarga manusia dengan gerombolan burung pipit yang sering bertamu, di pohon jambu air depan rumah.
Mereka tak ingin dijamu.
Karena bisa mandiri mencoba membangun keluarga pohon jambu air yang berbahagia.
Keluarga manusia tidak pernah mendekati pohon jambu air, juga tidak pernah mencoba merawat.
Dan alam-lah yang mengasihi pohon jambu air tersebut.
Dengan rezeki hujan, terik matahari yang garang, dan kenyamanan malam.
Pohon jambu air menjadi tempat yang sempurna untuk keluarga burung pipit.
Mereka berbahagia setiap pagi.
Saling berbicara dengan saling menatap.
@PipitElang "Ini pagi yang indah"
@PipitGaruda"Pagi yang datang setelah malam"
@PipitElang"Sungguh hangat melihat mu indah hari ini"
@PipithRajhawali"Kamu juga indah dengan semangat yang membara"
@PipitElang"Pelihara mimpi menjadi elang adalah kuncinya"
@Pi2tSaja"Bukankah kita burung pipit?"
@PipitElang"Tampak luarnya saja, kekuatan dalamnya melebihi elang"
@PipitGaruda"Aku pilih menjadi garuda yang gagah saja"
@PipithRajhawali"Garuda hanya burung utopia yang tak bisa terbang"
@PipitElang"Tidak bisa terbang karena kakinya sudah biasa di ikat, dan aku percaya Garuda itu ada"
@Pi2tSaja"Dimana kamu pernah melihatnya?"
@PipitGaruda"Saat aku menatap danau bening yang indah, aku melihatnya terbang melintasi"
Mereka berbicara memelihara mimpi dengan bercerita dan menyemangati.
--------------------------------------------------------------------------------
Merdu serta anggun mengiringi kepergian gerombolan burung pipit besar.
Ada tiga sarang di pohon jambu air.
Dua sarangnya jadi tangisan cerewet gerombolan burung pipit kecil.
Satu sarang lagi masih berupa sekelompok telur.
Tatkala matahari nya meninggi, lebih cerah, lebih gagah, dan tersenyum mewah.
Dengan kehangatan yang menjerat, awan pun tak berani melakukan pemberontakan.
Saat itulah dua pasang burung pipit besar mendekat. Memberi makan anak-anak yang kelaparan.
Berbicara renyah kepada pasangan yang belum menetaskan telurnya.
@Pi2tSaja"Kesempatan yang indah memiliki butiran telur memukau"
@PipitElang"Juga kesempatan yang baik mendapatkan tanggung jawab tersebut"
@PipitAlam"Aku percaya pada alam yang indah membantu menyelesaikan tanggung jawab"
@PipitGaruda"Sudahkah kamu berbicara dengan alam yang indah"
@PipitAlamiah"Ia punya banyak pengikut yang tidak bisa disepelekan, aku hanyalah salah satunya"
@PipitElang"Milik semesta yang tidak bisa dicintai sepenuhnya"
@PipitGaruda"Semoga telurmu juga menjadi burung pipit yang indah"
@PipitAlam"Aku lebih mengkhawatirkan nasib pohon jambu air yang mewah ini"
@PipithRajhawali"Aku juga, ini masa depan yang hanya bisa diserahkan ke alam"
@PipitElang"Dan keluarga manusia yang bertempat tinggal"
@Pi2tSaja"Aku iri dengan kebahagiaan keluarga manusia yang sunyi"
@PipitGaruda"Manusia dengan berbulu lebat selalu menjadi pemimpin"
@PipitAlamiah"Ia tak pernah berkotek kecuali membuka paruh dengan lebar"
@PipithRajhawali"10 x ukuran garuda, dan tidak bersayap"
@PipitAlam"Juga ada manusia dengan bulu yang sangat panjang dikepalanya"
@PipitElang"Terkadang ditutupinya, juga lebih banyak terurai"
@Pi2tSaja"Ia indah dan berkotek nyaring"
@PipithRajhawali"Sudahlah manusia bukan urusan kita"
@PipitAlamiah"Tapi ia juga bagian semesta yang mengarahkan masa depan"
@PipitAlam"Cukup percaya pada takdirmu"
@PipitElang"Kepastian yang ada di bumi adalah ketidakpastian"
@PipitGaruda"Silahkan berfilsafat, bumi tidak akan mengasihi dengan keraguan"
@PipithRajhawali"Kamu juga percaya hal itu"
@PipitElang"Untuk saat yang harus dipercaya"
-----------------------------------------------------------------------------------------
Pohon jambu air sudah ditebang. Masa lalu adalah kenangan dan sejarah.

@ManusiaTanpaGelar